Pages

Sabtu, 18 Mei 2013

sejarah perkembangan al-Quran pada masa Rasulullah


BAB II
PEMBAHASAN


1.      Penulisan dan penghafalan Al-Qur’an

Pada zaman Rasulullah SAW dan pemerintahan Abu Bakar dan Umar, ilmu-ilmu Al-Quran belum dibukukan, karena umat islam belum memerlukannya. Sebab umat islam pada waktu itu adalah bangsa Arab asli sehingga mereka mampu memahami Al-Qur’an dengan baik, karena bahasa Al-Qur’an adalah bahasa mereka sendiri dan mereka mengetaahui sebab-sebab turunnya Al-Qur’an. Oleh karenanya jarang sekali sahabat yang bertanya kepada Nabi tentang maksud-maksud ayat.
Ayat Al-Qur’an tidak dikumpulkan atau dibukukan seperti sekarang. Karena disebabkan beberapa faktor, maka ayat Al-Qur’an mulai dikumpulkan atau dibukukan, yaitu dikumpulkan dalam satu mushaf.[1] Pengumpulan Al-Qur’an pada masa nabi hanya dilakukan pada dua cara yaitu dituliskan pada benda-benda seperti yang terbuat dari kulit binatang, batu yang tipis dan licin, pelepah kurma, tulang binatang dan lain-lain. Tulisan-tulisan dari benda-benda tersebut dikumpulkan untuk Nabi dan beberapa diantaranya menjadi koleksi para sahabat yang pandai baca tulis.[2]
Rasulullah telah mengangkat para sahabat-sahabat terkemuka untuk menulis wahyu Al-Qur’an, yaitu: Ali, Muawiyah, Ubai bin K’ab dan Zaid bin Sabit, jika ayat turun ia memerintahkan mereka menulis dan menunjukan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembar itu membantu penghafalan didalam hati. Sebagian sahabat menuliskan Al-Qur’an yang turun itu atas kemauan sendiri, tanpa diperintah nabi.[3]
Al-Qur’an turun kepada Nabi yang Ummi (tidak bisa baca-tulis) dan diutus Allah di kalangan orang-orang yang Ummi. Karena itu perhatian Nabi hanyalah menghafal dan menghayati agar beliau dapat menguasai Al-Qur’an yang diturunkan. Rasulullah sangat menyukai wahyu, beliau senantiasa menunggu penurunan wahyu dengan rasa rindu, lalu menghafal dan memahaminya. Seperti yang dijanjikan Allah:

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (didadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya (al-Qiyamah: 17).

Proses turunnya Al-Qur’an terkadang turun hanya satu ayat dan kadang sampai sepuluh ayat. Setiap kali ayat turun kemudian dihafal didalam dada dan ditempatkan dalam hati. Bangsa arab secara kodratnya memunyai daya hafal yang kuat, karena umumnya mereka buta huruf.[4]

2.      Pengumpulan Al-Qur’an

Ali bin Abi Thalib sebagai pengumpul pertama al Qur`an pada masa Nabi berdasarkan perintah Nabi sendiri. Di kalangan Syi`ah menegaskan Ali bin Abi Thalib sebagai orang pertama yang mengumpulkan al Qur`an setelah wafatnya Nabi. Sumber-sumber Sunni juga mengungkapkan bahwa Ali memiliki kumpulan al Qur`an. Di kalangan ortodok Islam, pengumpula al Qur`an dapat dilakukan secara resmi pada masa pemerintahan Abu Bakar al- Shiddiq. Al Khatthabi berkata, “ Rasulullah tidak mengumpulkan al Qur`an dalam satu mushaf karena senantiasa menunggu ayat yang menghapus terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasulullah maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaur Rasyidin sesuai dengan janji-Nya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya “.
Pengumpulan pada masa Nabi cuma bisa dengan cara menghafal. Rasulullah sangat menyukai wahyu ia senantias menunggu turunnya wahyu dengan rasa rindu, lalu pada saat wahyu itu turun, Rasul langsung menghaal dan memahaminya.
Oleh sebab itu, ia adalah Hafidz (penghafal) pertama dan merupakan contoh paling baik bagi para sahabat dalam menghafalnya, sebagai realisasi kecintaan mereka kepada pokok masalah dan risalah. Setiap kali ayat turun, dihafal dan di temptkan dalam hati, sebab bangsa arab secara kodrati mempunyai hafalan yang kuat.
Pada setiap kali Rasulullah menerima wahyu yang berupa ayat-ayat Al-Qur’an beliau membacanya didepan para sahabat, kemudian para sahabat menghafalkan ayat-ayat tersebut sampai hafal di luar kepala. Namun kemudian beliau menyuruh kuttab (penulis wahyu) untuk menuliskan ayat-ayat yang baru di terimanya itu. Mereka yang termasyhur adalah; Abu Bakar, Umar bin khatab, ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin khaab, zayd bin tsabit, az-zubayr bin Awwam, Mu’awiyah bin Abi sufyan, Al-arqam bin maslamah, Muhammad bin Maslamah, Abban bin Sa’it bin AL-‘As, Maslamah bin khalid, qais bin Shasha’ah, Tamim Al-Dari, Salamah bin Makhlad, Abu Musa AL-Asy’ari, Uqbah bin Amir, Ummu faraqah binti Abdillah binti Harits.[5]

3.      Perkembangan Al-Qur’an

Pada masa nabi ilmu-ilmu al-quran belum di bukukan, karena umat islam belum memerlukannya serta ulumul quran masih belum ada, sebab pada waktu itu Rasulullah SAW masih hidup, sehingga jika terdapat suatu pertanyaan atau permasalahan mengenai al-Quran bisa ditanyakan langsung kepada Rasul kemudian diingat dalam pikiran dan hati para sahabat. Selain alasan di atas, belum adanya kebutuhan untuk menulis kitab-kitab tentang ulumul quran merupakan alasan di balik belum munculnya ulumul quran pada masa Nabi. Terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur'an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an setelah wahyu diturunkan.


[1] Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’i, UlumulQur’an I,hlm.71-72.
[2] Departemen Agama Republik Indonesia, Muqaddimah Al-Qur’an dan Terjemahnya, PT. Karya Toha Putra; Semarang. 2002. Hlm.18
[3] Nur Kholis, Pengantar Studi Al-Qur’an dan Hadis,hlm.83
[4] Ibid., hlm. 77-78.
[5] Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’i, UlumulQur’an I,hlm. 67-68

1 komentar: